Pemerintah: 1.242 Triliun Rupiah Kredit Belum Dicairkan Nasabah Perbankan

379

Pemerintah-1.242-Triliun-Rupiah-Kredit-Belum-Dicairkan-Nasabah-Perbankan

Hariannusantara.com – Kredit Pemerintah yang dipinjamkan kepada warga rupanya tidak menjadi salah satu hal penting yang mempengaruhi perkonomian Indonesia. Pasalnya banyak dari warga berasalan jika dana tersebut tidaklah menjadikannya penolong.

Kredit mubazir atau fasilitas kredit kepada nasabah yang belum dicairkan (undisbursed loan) perbankan capai 1.242 triliun rupiah hingga April 2016. Jumlah ini tercatat tumbuh 6,6 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan undisbursed loan tersebut lebih kencang ketimbang pertumbuhan kuartal pertama tahun ini yang hanya 3,6 persen. Namun, tetap masih lebih rendah kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai double digit.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dari 1.242 triliun rupiah kredit mubazir perbankan, diantaranya 294,97 triliun rupiah merupakan fasilitas kredit yang sudah diikat atau committed untuk digelontorkan, dan sisanya 947,39 triliun rupiah merupakan fasilitas kredit uncommitted.

Adapun kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 1 dan 2 memberikan kontribusi positif dengan mencatat penurunan kredit mubazir masing-masing 56,3 persen dan 36 persen. Kredit mubazir bank BUKU 1 sebanyak 5,776 triliun rupiah dan bank BUKU 2 87,805 triliun rupiah.

Sementara kelompok bank BUKU 3 dan 4 malah membukukan peningkatan kredit mubazir masing-masing 15,4 persen dan 9,17 persen. Yakni, menjadi sebesar 728,545 triliun rupiah dan 415,399 triliun rupiah.

Sebelumnya Nelson Tampubolon selaku Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK mengungkapkan, penyumbang kredit mubazir paling besar pada kuartal I 2016 adalah bank asing yang masuk kelompok bank BUKU 3.

Kendati demikian, ia optimistis jumlah kredit mubazir akan semakin terkikis seiring dengan meningkatnya penyerapan kredit sektor riil. Optimisme ini tidak terlepas dari membaiknya makro ekonomi.