Kurangi Pemudik Tewas, Pemerintah Diminta Subsidi Tarif Bus

199

Kurangi-Pemudik-Tewas-Pemerintah-Diminta-Subsidi-Tarif-Bus

Hariannusantara.com – Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai pemerintah belum mengoptimalkan pelayanan transportasi publik, terutama angkutan umum seperti bus yang beroperasi di jalur darat. Kritik itu disampaikan menanggapi temuan korban pemudik Lebaran 2016 yang meninggal akibat kecelakaan saat mereka dalam perjalanan pulang kampung halaman. Sebanyak 80 persen korban adalah pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua.

“Sebetulnya ini seperti siklus tahunan yang berulang. Para pengendara roda dua jelas tidak bisa disalahkan karena bisa jadi mereka tak punya pilihan,” ujar Direktur Eksekutif MTI Dedy Herlambang, Senin (4/7/2016).

Pilihan pemudik untuk menggunakan kendaraan roda dua tidak terlepas dari ketersediaan jatah kursi dari angkutan umum itu sendiri, terutama moda transportasi kereta api. Menurut Deddy, masyarakat kini terbatas untuk menggunakan transportasi kereta api karena tiket biasanya sudah ludes bahkan tiga bulan sebelum tanggal pemberangkatan.

Sementara satu-satunya pilihan moda transportasi darat yang tersisa adalah bus. Anehnya, bus angkutan umum kini sepi peminat.

“Itu terlihat di terminal-terminal bus yang kini bahkan bisa dikatakan tidak ada antrean penumpang yang signifikan,” kata Deddy.

Sepinya peminat bus angkutan umum untuk mudik  tidak terlepas dari unsur kenyamanan atau kepraktisan penumpang dalam mendapatkan akses transportasi lanjutan yang bisa mengantar ke tempat tujuan.

Dedy mengatakan penumpang biasanya akan kesulitan atau kebingungan mencari transportasi terusan setibanya di terminal tujuan. Kendaraan pribadi pada akhirnya menjadi pilihan karena memberi akses mobilitas yang lebih luwes, sekalipun mudik jarak jauh itu mesti ditempuh menggunakan roda dua.

“Tapi lebih dari itu semua, urusan tarif rasanya menjadi persoalan pokok yang utama,” imbuhnya.

Menurut Dedy, pemerintah dalam hal ini perlu mengakali kenaikan tarif bus lebaran dengan cara memberikan insentif atau subsidi harga tiket penumpang. Cara tersebut diyakini bisa mendongkrak kembali minat para penumpang yang dinilai mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah.

“Inisiatif itu perlu dilakukan jika pemerintah serius ingin menekan angka kecelakaan,” kata Dedy.

Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya terdapat 150 jiwa pemudik meninggal akibat kecelakaan sejak H-7 hingga H-4  Lebaran 2016. Sebanyak 80 persen korban kecelakaan adalah pemudik yang menunggang kendaraan roda dua.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan pada era mudik H-7 hingga H+7 Lebaran tahun 2015, terdapat 760 jiwa meninggal akibat kecelakaan. Dia mengklaim akan terus melakukan perbaikan untuk menekan angka kecelakaan dan kemacetan.