Uni Eropa dan Amerika Kompak Tuding Bashar Al-Assad Jadi Dalang Serangan Kimia di Suriah

211

Serangan-Gas-Kimia-di-Idlib-Suriah-Menewaskan-Puluhan-Warga-SipilHariannusantara.com Serangan kimia yang terjadi di kawasan Idlib, Suriah telah menewaskan sedikitnya puluhan orang termasuk wanita dan anak-anak. Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih, Donald Trump mengutuk serangan gas kimia tersebut. Dalam kasus ini, Trump menyalahkan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad. Menurut Trump serangan senjata kimia ini sangatlah tidak manusiawi dan harusnya menjadi perhatian dunia. Salah seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS berpendapat bahwa pendukung rezim Assad jelas mengetahui dalang dibalik serangan kimia pada Selasa (4/4/2017).

“Ini telah melawati banyak garis. Jika Anda membunuh anak, bayi tak berdosa, dengan gas kimia maka ini telah melewati garis merah,” ujar Trump kepada wartawan, kemarin (5/4/2017).

“Ini merupakan tindakan kejam yang dilakukan rezim Assad dan tak bisa ditoleransi,” ujarnya.

Selain Presiden Trump, Uni Eropa juga terang-terangan menuduh Presiden Suriah Bashar Al-Assad mendalangi aksi serangan gas kimia yang menyerang warga sipil di Idlib Suriah. PBB melalui Staffan de Mistura mengatakan bahwa PBB segera mengadakan sidang terkait serangan kimia yang yang memakan banyak korban.

“Berita hari ini mengerikan. Ini sebuah pengingat yang dramatis bahwa situasi di lapangan masih terus dramatis di banyak bagian di Suriah. Jelas tangung jawab utama berasal dari rezim karena tanggung jawab utamanya adalah melindungi rakyatnya,” kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini.

“Ini mengerikan dan kami meminta, saya yakin akan ada pertemuan Dewan Keamanan menyangkut hal ini,” kata Staffan de Mistura seperti dikutip Reuters.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, sangat mengutuk kejadian yang sangat biadab tersebut. Cavusoglu menyebutkan jika serangan tersbut merupakan kejahatan kemanusiaan. Selain itu, Cavusoglu mengatakan jika dengan ada serangan yang diyakini dilancarkan oleh jet-jet tempur tersebut telah mencederai proses perdamaian yang sedang berlangsung di Kazakhstan.